دلي الفارابي

Meniti Jejak Salafush Shalih dalam Memahami Al-Quran dan As-Sunnah Sesuai Pemahaman Ahlussunnah Waljamaah

Bantahan Ilmiyah Terhadap Habib Munzir Atas Sanggahannya Terhadap Ulama Ahlus Sunnah (7)


Bantahan Ilmiyah Terhadap Habib Munzir Al-Musawwa Atas Sanggahannya Terhadap Ulama Ahlus Sunnah sepeti : Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah, Syaikh Muhammad Bin Abdul Wahab, Syaikh Abdul Aziz Bin Abdullah Bin Baz, Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dan Ulama Ahlus Sunnah Lainnya dalam Buku-bukunya “Kenalilah Akidahmu dan Meniti Kesempurnaan Iman” Karya Habib Munzir Al-Musawwa.
=====================================================

Bantahan Buku “Meniti Kesempurnaan Iman” Karya Habib Munzir Al-Musawwa

Oleh :

Al-Ustadz Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja Abidin
(Alumnus Jurusan Hadits dan Akidah Universitas Islam Madinah)

Dikutip dari Buku “Bantahan Ilmiyah Untuk Habib Munzir” oleh Ust. Abu Abdil Muhsin Firanda Andirja Abidin pada situs beliau http://www.firanda.com

========================================================

Pendalilan Habib Munzir Untuk Membolehkan Bersitighotsah Kepada Mayat

========================================================

Buku ‘Meniti Kesempurnaan Iman’ yang ditulis Habib Munzir al-Musawwa adalah tulisan sanggahan terhadap karya Syaikh Abdul Aziz bin Baz berjudul ‘Benteng Tauhid’. Banyak permasalahan tauhid yang dikritik oleh Habib Munzir terhadap buku Syaikh Bin Baz tersebut,namun sebenarnya kebenaran adalah apa yang disampaikan Syaikh Bin Bazrahimahullah. Silakan disimak penjelasan-penjelasan berikut ini yang akan menjabarkan kesalahan-kesalahan Habib Munzir dalam bukunya tersebut.

=============================

PERTAMA : Pendalilan Habib Munzir dengan hadits syafaat Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pada hari kiamat

Habib Munzir berkata :

“Rasul saw memperbolehkan Istighatsah, sebagaimana hadits beliau saw : “Sungguh matahari mendekat dihari kiamat hingga keringat sampai setengah telinga, dan sementara mereka dalam keadaan itu mereka ber-istighatsah (memanggil nama untuk minta tolong) kepada Adam, lalu mereka beristighatsah kepada Musa, Isa, dan kesemuanya tak mampu berbuat apa apa, lalu mereka beristighatsah kepada Muhammad saw” (Shahih Bukhari hadits no.1405),
juga banyak terdapat hadits serupa pada Shahih Muslim hadits No.194, Shahih Bukhari hadits No.3162, 3182, 4435, dan banyak lagi hadist2 shahih yang Rasul saw menunjukkan ummat manusia beristighatsah pada para Nabi dan Rasul, bahkan Riwayat Shahih Bukhari dijelaskan bahwa mereka berkata pada Adam, Wahai Adam, sungguh engkau adalah ayah dari semua manusai.. dst.. dst…dan Adam as berkata : “Diriku..diriku.., pergilah pada selainku.., hingga akhirnya mereka ber Istighatsah memanggil – manggil Muhammad saw, dan Nabi saw sendiri yang menceritakan ini, dan menunjukkan beliau tak mengharamkan Istighatsah.

Maka hadits ini jelas – jelas merupakan rujukan bagi istighatsah, bahwa Rasul saw menceritakan orang – orang ber-istighatsah kepada manusia, dan Rasul saw tak mengatakannya syirik, namun jelaslah Istighatsah diperbolehkan bahkan hingga dihari kiamat kepada para hamba yg dekat pada Allah di hari kiamat, dan ternyata dihari kiamat Istighatsah diizinikan Allah swt hanya untuk Sayyidina Muhammad saw” (Kenalilah aqidahmu 2 hal 76-77)

Sanggahan :

Hadits yang dijadikan dalil oleh Habib Munzir ini adalah tentang istighotsah pada waktu di padang mahsyar.

Marilah para pembaca yang budiman kita melihat lafal hadits tersebut secara utuh, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

يَجْمَعُ اللهُ النَّاسَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيَقُوْلُوْنَ لَوِ اسْتَشْفَعْنَا عَلَى رَبِّنَا حَتَّى يُرِيْحَنَا مِنْ مَكَانِنَا، فَيَأْتُوْنَ آدَمَ فَيَقُوْلُوْنَ أَنْتَ الَّذِي خَلَقَكَ اللهُ بِيَدِهِ وَنَفَخَ فِيْكَ مِنْ رُوْحِهِ وَأَمَرَ الْمَلَائِكَةَ فَسَجَدُوْا لَكَ فَاشْفَعْ لَنَا عِنْدَ رَبِّنَا، فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ وَيَقُوْلُ ائْتُوْا نُوْحًا أَوَّلَ رَسُوْلٍ بَعَثَهُ اللهُ، فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوْا إِبْرَاهِيْمَ الَّذِي اتَّخَذَهُ اللهُ خَلِيْلاً، فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ : لَسْتُ هُنَاكُمْ وَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوا مُوْسَى الَّذِي كَلَّمَهُ اللهُ فَيَأْتُوْنَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ فَيَذْكُرُ خَطِيْئَتَهُ ائْتُوا عِيْسَى فَيَأْتُونَهُ فَيَقُوْلُ لَسْتُ هُنَاكُمْ ائْتُوا مُحَمَّدًا صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَدْ غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَا تَأَخَّرَ فَيَأْتُوْنِي فَأَسْتَأْذِنُ عَلَى رَبٍّي

Allah mengumpulkan manusia pada hari kiamat, maka mereka berkata, “Bagaimana kalau kita mencari syafaat agar Allah mengistirahatkan kita dari tempat kita ini”. Maka merekapun mendatangi Adam, mereka berkata : “Engkaulah orang yang telah Allah diciptakan oleh dengan tanganNya dan Allah telah meniupkan dari ruh ciptaanNya kepadamu dan memerintahkan para malaikat maka merekapun sujud kepadamu, maka berilah syafaat bagi kami di sisi Rob kami”. Maka Adam berkata, “Aku tidak pantas” dan Adam menyebutkan kesalahannya dan berkata, “Pergilah ke Nuuh, rasul yang pertama kali Allah utus !”. Maka merekapun mendatangi Nuuh, dan beliau berkata, “Aku tidak pantas”, lalu ia menyebutkan kesalahannya, ia berkata, “Pergilah kalian ke Ibrahim yang telah dijadikan Allah sebagai kekasih Allah !”. Maka merekapun mendatanginya dan ia berkata, “Aku tidak pantas”, dan ia menyebutkan kesalahannya, (dan berkata) : “Datangilah Musa yang Allah telah berbicara dengannya”. Maka merekapun mendatanginya, lalu ia berkata, “Aku tidak pantas” dan ia menyebutkan kesalahannya, (dan berkata), “Datangilah Isa”. Maka merekapun mendatangi Isa, lalu ia berkata, “Aku tidak pantas, pergilah ke Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah diampuni dosa-dosanya yang lampau dan yang mendatang”. Maka merekapun mendatangiku, lalu aku meminta izin kepada Robku….”  (HR Al-Bukhari no 6565 dan Muslim no 193)

Jawaban dari pendalilan ini dari beberapa sisi :

Pertama : Kondisinya jelas tatkala itu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dalam keadaan hidup –setelah dibangkitkan dari kuburan beliau- dan manusia juga dalam keadaan hidup karena telah dibangkitkan dari kuburan mereka. Mereka berbicara dengan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dan Nabi juga berbicara dengan mereka. Tentunya ini berbeda dengan kondisi seseorang beristighootsah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang dalam keadaan telah wafat dan dalam keadaan di kuburan.

Kedua : Dalam hadits ini manusia tidak meminta kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menghilangkan kesulitan dan kepayahan yang mereka hadapi, akan tetapi mereka hanya meminta kepada Nabi untuk berdoa kepada Allah agar menghilangkan kesulitan yang mereka hadapi (dan para ulama telah sepakat akan bolehnya bertawassul dengan meminta kepada seorang mukmin untuk mendoakannya kepada Allah), maka apakah sama dengan orang yang datang kepada kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian minta agar diberi rizki atau pekerjaan, atau diberi keturunan, dll ??!! apalagi yang datang kepada kuburan selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam??!!.

Ketiga : Lihatlah dalam hadits ini ternyata manusia telah meminta pertolongan kepada para nabi ‘alaihim salaam, mereka meminta pertolongan mulai dari Nabi Adam ‘alaihis salaam hingga akhirnya kepada Nabi Muhammad. Semua nabi menolak untuk memberi pertolongan untuk memberi syafaat kecuali Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kalau para nabi saja seluruhnya menolak memberi bantuan bahkan para nabi menyebutkan kesalahan-kesalahan yang pernah mereka lakukan, lantas coba bandingkan dengan….

–         Orang-orang yang pergi ke kuburan orang sholeh yang kesholehannya sangatlah jauh dan tidak bisa dibandingkan dengan kesholehan para nabi??, lantas dengan pede-nya merasa orang sholeh tersebut akan membantunya??!!

–         Bahkan sebagian para pemakmur kuburan terkadang meminta ke kuburan orang yang tidak jelas…bahkan terkadang meminta ke kuburan orang yang menyeru kepada pluralisme?? Yang menyatakan semua agama sama !!!, yang menyatakan bahwa orang yahudi dan nashrani juga masuk surga !!!!

–         Bahkan sebagian orang yang mewasiatkan agar kuburannya kelak dikunjungi ??!!, sebagaimana yang disampaikan oleh As-Sya’rooni dalam Tobaqootnya, dimana ada salah seorang tokoh sufi yang berkata tatkala sakit akan meninggal : “Barangsiapa yang memiliki hajat (kebutuhan) maka hendaknya ia datang ke kuburanku dan hendaknya ia meminta hajatnya maka aku akan memenuhi hajatnya” (At-Thobaqoot Al-Kubroo karya Asy-Sya’rooni 2/518).

Keempat : Tidak semua permintaan pertolongan (istighootsah) yang ditujukan kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam dipenuhi oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Nabi pernah bersabda :

لاَ أُلْفِيَنَّ أَحَدَكُمْ يَومَ الْقِيَامَةِ عَلَى رَقَبَتِهِ شَاةٌ لَهَا ثُغَاءٌ عَلَى رَقَبَتِهِ فَرَسٌ لَهُ حَمْحَمَةٌ يَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ وَعَلَى رَقَبَتِهِ بَعِيْرٌ لَهُ رُغَاءٌ يَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ، وَعَلَى رَقَبَتِهِ صَامِتٌ فَيَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ أَوْ عَلَى رَقَبَتِهِ رقَاعٌ تُخْفِقُ فَيَقُوْلُ : يَا رَسُوْلَ اللهِ أَغِثْنِي، فَأَقُوْلُ : لاَ أَمْلِكُ لَكَ شَيْئًا قَدْ أَبْلَغْتُكَ

“Sungguh aku tidak ingin mendapati salah seorang dari kalian –pada hari kiamat- di atas lehernya ada seekor kambing yang mengembek, di atas lehernya ada seekor kuda yang meringkik, seraya berkata (*beristighotsah kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam), “Wahai Rasulullah tolonglah aku”, maka aku berkata, “Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikannya kepadamu”, dan (*salah seorang dari kalian) yang di atas lehernya ada seekor untuk yang bersuara lalu ia berkata, “Wahai Rasulullah agitsni (tolonglah aku) !”, maka aku berkata, “Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan kepadamu. Dan (*salah seorang dari kalian) di atas lehernya emas dan perak, seraya berkata, “Wahai Rasulullah tolognlah aku”, maka aku berkata, “Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan.  Atau (*salah seorang dari kalian) di atas lehernya ada kertas-kertas yang melambai-lambai (*yaitu kertas tempat catatan hak-hak orang lain yang tidak ia tunaikan atau ia akhirkan), lalu berkata, “Wahai Rasulullah, tolonglah aku”, maka aku berkata, “Aku tidak bisa berbuat sesuatupun kepadamu, aku telah menyampaikan kepadamu” (HR Al-Bukhari no 3073 dan Muslim no 1831)

============================

Habib Munzir berkata :

“Demikian pula diriwayatkan bahwa dihadapan Ibn Abbas ra ada seorang yang keram kakinya, lalu berkata Ibn Abbas ra : “Sebut nama orang yg paling kau cintai..!”, maka berkata orang itu dengan suara keras.. : “Muhammad..!”, maka dalam sekejap hilanglah sakit keramnya (diriwayatkan oleh Imam Hakim, Ibn Sunniy, dan diriwayatkan oleh Imam Tabrani dengan sanad hasan) dan riwayat ini pun diriwayatkan oleh Imam Nawawi pada Al Adzkar.

Jelaslah sudah bahwa riwayat ini justru bukan mengatakan musyrik pada orang yang memanggil nama seseorang saat dalam keadaan tersulitkan, justru Ibn Abbas ra yang mengajari hal ini” (Kenalilah akidahmu 2 hal 77)

SANGGAHAN

Riwayat dari Ibnu Abbas ini dijadikan dalil oleh Habib Munzir akan bolehnya beristighootsah kepada mayat, bahkan dianjurkan dan diajari oleh Ibnu Abbas radhiallahu ‘anhumaa. Sisi pendalilan adalah karena orang tersebut tatkala menghadapi kesulitan lantas ia menyebut nama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggal dunia.

Sanggahan terhadap pendalilan ini dari beberapa sisi :

PERTAMA : Riwayat ini adalah riwayat yang lemah.

Ibnu Sunniy meriwayatkan dalam kitabnya ‘amal al-Yaum wa al-Lailah dengan sanadnya :

“…Ada seseorang yang keram kakinya di sisi Ibnu Abbaas, maka Ibnu Abbaas berkata, “Sebutlah orang yang paling engkau cintai”, maka orang tersebut berakata, “Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam”, maka hilanglah keramnya tersebut” (‘Amal al-Yaum wa al-Lailah karya Ibnu Sunniy 88-89 no 169)

Dari jalan Ibnu Sunniy juga diriwayatkan oleh Imam An-Nawawi dalam kitabnya al-Adzkaar hal 261.

Dalam sanad riwayat ini ada seorang perawi yang bernama Ghiyaats bin Ibraahiim. Dan perawi ini dinilai lemah oleh para ahli hadits, bahkan tertuduh sebagai pendusta. Berikut saya sebutkan perkataan para Ahli Hadits.

Adz-Dzahabi As-Syaafi’i berkata :

“Ghiyaats bin Ibraahiim An-Nakho’iy meriwayatkan dari Al-A’masy dan yang lainnya.

Imam Ahmad berkata, “Orang-orang meninggalkan haditsnya Ghiyaats”.

‘Abbaas meriwayatkan dari Imam Yahya, ia berkata : “Ghiyaats tidak tsiqoh/terpercaya”.

Al-Juzjaaniy berkata, “Aku mendengar lebih dari satu orang  berkata, “Ghiyaats memalsu hadits”. Imam Al-Bukhari berkata, “Mereka (para ahli hadits) meninggalkannya” (Miizaan Al-I’tidaal fi naqd ar-Rijaal 3/337)

Ibnu Hajar Al-‘Asqolaani As-Syaafi’i berkata :

“Dan Al-Aajurriy berkata : “Aku bertanya kepada Abu Dawud (*tentang Ghiyaats) maka ia berkata : “Kadzdzaab (Pendusta)”, dan ia suatu kali pernah berkata, “Tidak tsiqoh/dipercaya dan tidak amanah”. Ibnu Ma’iin berkata, “(*Ghiyaats) pendusta yang buruk. As-Saajiy berkata, “Mereka meninggalkannya”, Sholeh Jazrah berkata : “Ia memalsukan hadits” (Lisaan Al-Miizaan 6/311)

Dari perkataan para Imam ahli hadits di atas yang disampaikan oleh Adz-Dzahabi dan Ibnu Hajr rahimahumullah maka bisa kita simpulkan bahwasanya riwayat dari Ibnu Abbas ini adalah riwayat yang dusta, karena dalam sanadnya ada perawi yang pendusta yaitu Ghiyaats bin Ibroohiim An-Nakho’iy Al-Kuufiy.

KEDUA : Habib Munzir mengatakan bahwa atsar ini diriwayatkan oleh Imam Al-Haakim dan At-Thobrooniy dengan sanad yang hasan. Maka bisakah Habib Munzir menyebutkan dalam buku-buku apa saja mereka berdua meriwayatkan atsar ini? Agar kita bisa mendapat faedah lebih banyak dan bisa mengecek sanad riwayat ini. Kemudian Ulama Ahli hadits siapakah yang telah menghukumi bahwasanya sanad riwayat ini adalah hasan? Ataukah Habib Munzir sendiri (yang konon merupakan pakar hadits dan ahli sanad) yang telah menyatakan riwayat ini hasan??!!. Karena riwayat yang terdapat dalam kitab Ibnu Sunniy riwayatnya maudhuu’ (palsu), dan Habib menyatakan bahwasanya riwayat atsar ini sanadnya hasan, saya menunggu jawaban Habib Munzir…, jika Habib Munzir bisa mendatangkan sanad periwayatannya maka kita berusaha menilai keabsahan sanad tersebut Alhamdulillah, akan tetapi jika tidak ada maka berarti riwayat ini adalah riwayat yang palsu..!!!.

KETIGA : Jika kita mengatakan bahwa riwayat ini shahih maka inipun tidak bisa dijadikan dalil untuk membolehkan meminta kepada mayat. Hal ini nampak dari beberapa sisi :

Pertama : Ibnu Abbaas berkata kepada orang tersebut “Sebutlah orang yang paling engkau cintai !”. Ibnu Abbaas tidak berkata, “Berisitghotsahlah engkau kepada orang yang engkau cintai !!”. Dan jawaban orang tersebut adalah, “Muhammad”, sesuai dengan anjuran Ibnu Abbaas. Ia tidak berkata, “Yaa Muhammad tolonglah aku..!!”, atau berkata, “Yaa Muhammad sembuhkanlah aku !!”, akan tetapi ia hanya sekedar menyebut nama orang yang paling dia cintai yaitu “Muhammad”.

Kedua : Tentunya berbeda antara istighootsah dengan hanya sekedar menyebut nama. Kalau istighootsah adalah seruan (memanggil) yang disertai dengan tolabul ghouts (permohonan pertolongan). Dan dalam atsar Ibnu Abbaas ini sangat jelas, lelaki tersebut sama sekali tidak sedang meminta pertolongan kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam. Bahkan lelaki tersebut tidak menyeru Nabi dan berkata, “Wahai atau Yaa Muhammad”, akan tetapi ia hanya menyebut nama “Muhammad” tanpa disertai dengan seruan “wahai” atau “yaa”. Kalaupun lelaki tersebut mengatakan “Wahai Muhammad” maka inipun bukan istighootsah karena tidak disertai dengan permohonan pertolongan.

Ketiga : Kalau hanya sekedar menyebut nama atau menyeru nama seseorang tanpa permohonan pertolongan sudah dikatakan istighootsah, maka jika seseorang sedang stress lantas menyebut nama istrinya (yang sangat ia cintai) agar pikirannya tenang, maka apakah orang ini dikatakan telah beristighootsah dengan istrinya?, dengan beristighootsah dengan wanita yang jauh lebih lemah darinya??

Keempat : Dalam kisah ini, Ibnu Abbaas menyarankan untuk menyebut seorang yang paling dicintai oleh lelaki tersebut. Ibnu Abbas tidak mempersyaratkan bahwasanya orang yang paling dicintai tersebut harus merupakan ruh orang yang sudah wafat atau orang yang sedang hadir di situ. Bahkan Ibnu Abbaas sama sekali tidak mempersyaratkan bahwa orang yang dicintai tersebut harus merupakan ruh orang yang sholeh yang dipersangkakan memiliki manzilah di sisi Allah

Lantas jika tenyata lelaki tersebut ternyata menyebutkan nama istrinya atau anaknya yang sangat dia cintai, maka bukankah ia telah melaksanakan anjuran Ibnu Abbaas??, lantas…

–         Apakah ini adalah istighootsah menurut Habib Munzir???:

–         Apakah dikatakan ia beristighootsah dengan anaknya atau istrinya yang jauh lebih lemah darinya??

–       Lantas apakah Habib Munzir membolehkan untuk beristighootsah dengan orang yang tidak hadir di situ dan tidak bisa mendengarkan permintaan tolong lelaki tersebut??. Tentunya Habib Munzir sepakat jika seseorang sedang sakit terbaring di rumah sakit lantas ia mengingat orang yang paling dicintainya (seperti istrinya atau anaknya atau ibunya), lalu ia menyebut namanya, dan ternyata orang yang dicintainya tersebut masih hidup dan posisinya jauh dari rumah sakit, maka ini tentunya bukanlah isitighootsah

KEEMPAT : Apa sih sisi pendalilan dari kisah Ibnu Abbaas ini sehingga bisa dijadikan dalil akan bolehnya berisitighootsah kepada mayat?

Tentunya berdasarkan pemahaman orang-orang yang membolehkan meminta tolong dan beristighootsah kepada mayat maka sisi pendalilannya sebagai berikut : “Lelaki tersebut sedang menghadapi kesulitan yaitu kakinya keram, dan Ibnu Abbas menganjurkannya untuk meminta tolong (beristighootsah) kepada orang yang dicintainya. Ternyata lelaki tersebut beristighootsah kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam yang telah meninggal dunia. Dan hal ini tidak diingkari oleh Ibnu Abbaas, bahkan merupakan bentuk pengamalan dari anjuran Ibnu Abbaas”.

Demikianlah kira-kira sisi pendalilannya. Karena jika sisi pendalilannya tidak seperti ini maka atsar (kisah) ini sama sekali tidak bisa dijadikan dalil untuk beristighootsah kepada mayat orang sholeh.

Lantas sekarang saya jadi bertanya, Apakah menurut Habib Munzir seseorang boleh beristighootsah kepada Nabi Muhammad meskipun tidak dihadapan kuburan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam?? Bukankah ini merupakan kesyirikan yang nyata??, Karena tidaklah seorang hamba yang ada di Indonesia yang terkena musibah dan kesulitan lantas beristighootsah kepada Nabi shallallahu ‘alaih wa sallam kecuali ia memiliki keyakinan-keyakinan berikut :

–         Meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mendengar permintaan tolongnya meskipun jasad Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam terkubur di Madinah sementara sang hamba berada di Indonesia

–         Meyakini bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bukan hanya sekedar mendengar, bahkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengetahui kondisinya yang sedang menghadapi kesulitan. Dan inilah yang diyakini oleh seorang habib yang lebih senior dan mendunia daripada Habib Munzir, yaitu Habib Alawi Al-Maliki Al-Hasanni, ia berkata dalam kitabnya “Mafaahiim yajibu an Tushohhah” tentang Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

فَإِنَّهُ حَيِّيُ الدَّارَيْنِ دَائِمُ الْعِنَايَةِ بِأُمَّتِهِ، مُتَصَرِّفٌ بِإِذْنِ اللهِ فِي شُؤُوْنِهَا خَبِيْرٌ بِأَحْوَالِهَا

“Sesungguhnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam hidup di dunia dan akhirat, senantiasa memperhatikan umatnya, mengatur urusan umatnya dengan izin Allah dan mengetahui keadaan umatnya

–         Meyakini bahwa Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam mampu untuk menghilangkan kesulitan yang sedang dihadapinya dengan izin Allah.

Lantas bagaimana jika ruuh yang dimintai tolong tersebut adalah selain Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam maka apakah Habib Munzir juga membolehkan untuk beristighootsah kepada ruh tersebut …meskipun tidak di hadapan kuburannya?? Dengan berkeyakinan bahwasanya ruh-ruh orang sholeh bisa menghilangkan kesulitan dengan izin Allah?? Sebagaimana juga yang diyakini oleh Alawi Al-Maliki pendukung kesyirikan…??. Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berkata :


والحاصل أنه لا يكفر المستغيث إلا إذا اعتقد الخلق والإيجاد لغير الله تعالى ، والتفرقة بين الأحياء والأموات لا معنى لها فإنه من اعتقد الإيجاد لغير الله كفر

وأنت تعلم أن غاية ما يعتقد الناس في الأموات هو أنهم متسببون ومكتسبون كالأحياء لا أنهم خالقون موجدون كالإله

“Intinya sesungguhnya orang yang beristighootsah (*kepada mayat) tidaklah kafir kecuali jika ia meyakini ada selain Allah yang menciptakan. Dan pembedaan antara orang-orang yang hidup dengan mayat-mayat tidak ada artinya, karena barangsiapa yang meyakini ada yang menciptakan selain Allah maka kafir….dan engkau mengetahui bahwasanya puncak dari apa yang diyakini manusia tentang mayat-mayat bahwasanya mayat-mayat tersebut hanyalah sebagai sebab dan usaha saja sebagaimana orang-orang hidup, dan bukanlah mayat-mayat tersebut adalah para pencipta sebagaimana Tuhan”

Habib Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berpendapat sama seperti Habib Munzir bahwa mayat-mayat merupakan sebab untuk mendatangkan pertolongan, dan tidak ada perbedaan antara orang hidup dan orang mati. Bahkan Habib Alawi Al-Maaliki Al-Hasani berpendapat seseorang boleh beristighootsah kepada mayat sholeh dan tidak akan dikatakan perbuatannya syirik selama ia meyakini bahwa mayat tersebut hanya sebab atau telah diberi izin oleh Allah. Lihat kembali artikel (http://www.firanda.com/index.php/artikel/bantahan/128-bantahan-terhadap-abu-salafy-seri-7-perkataan-abu-salafy-berdoa-kepada-selain-allah-tidak-mengapa-selama-tidak-syirik-dalam-tauhid-rububiyah)

KELIMA : Kalaupun atsar ini shahih lantas apakah bisa menjadi dalil bagi kelompok orang yang bermadzhab Aysa’ari untuk membangun suatu aqidah??!!!. Bukankah orang-orang Asya’ari mempersyaratkan bahwasanya yang bisa dijadikan dalil untuk permasalahan aqidah haruslah dalil yang mutawaatir dan bukan dalil yang ahad??!! (yang persayaratan ini adalah warisan yang diambil oleh orang-orang Asyaairoh dari kaum mu’tazilah, dan insyaa Allah akan ada pembahasannya secara khusus !!)


Ini semua jika riwayat tersebut shahih, ternyata seperti yang sudah dijelaskan bahwa riwayat tersebut adalah PALSU.

============================

Habib Munzir berkata :

“Kita bisa melihat kejadian Tsunami di aceh beberapa tahun yang silam, bagaimana air laut yang setinggi 30 meter dengan kecepatan 300km dan kekuatannya ratusan juta ton, mereka tak menyentuh masjid tua dan makam makam shalihin, hingga mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu, yang itu sebagai isyarat Illahi bahwa demikianlah Allah memuliakan tubuh yang taat pada-Nya swt, tubuh – tubuh tak bernyawa itu Allah jadikan benteng untuk mereka yang hidup.., tubuh yang tak bernyawa itu Allah jadikan sumber Rahmat dan perlindungan-Nya swt kepada mereka mereka yang berlindung dan lari ke makam mereka.
mereka yang lari berlindung pada hamba–hamba Allah yang shalih mereka selamat, mereka yang lari ke masjid–masjid tua yang bekas tempat sujudnya orang–orang shalih maka mereka selamat, mereka yang lari dengan mobilnya tidak selamat, mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat..
Pertanyaannya adalah : kenapa Allah jadikan makam sebagai perantara perlindungan-Nya swt?, kenapa bukan orang yang hidup?, kenapa bukan gunung?, kenapa bukan perumahan?.

Jawabannya bahwa Allah mengajari penduduk bumi ini beristighatsah pada shalihin. Walillahittaufiq” (Meniti Kesempurnaan Iman hal 7-8))

 

SANGGAHAN

Sungguh ini merupakan pendalilan yang sangat aneh bin ajaib dari Habib Munzir, dan sanggahan terhadap pendalilan beliau ini dari beberapa sisi :

PERTAMA : apakah begini berdalil yang benar dalam beragama? Mana dalil dari Al Quran dan hadits habibuna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, ataupun perkataan para shahabat dengan riwayat yang benar? Apakah karena sebuah keyakinan yang sudah mengakar lalu menghalalkan segala cara agar keyakinan bisa diterima?!!. Tidak bisa disangka pendalilan seperti ini keluar dari Habib Munzir. Benar-benar aneh bin ajaib!!! Subhanallah wallahul musta’an!!!.

KEDUA : Apakah Habib Munzir sudah melakukan sensus data orang-orang yang selamat dari bencana tsunami di Aceh secara keseluruhan dengan memperhatikan sebab kenapa mereka selamat?, apakah yang selamat karena berdoa kepada Allah tanpa beristighootsah kepada mayat lebih sedikit daripada yang selamat karena beristighootsah kepada mayat?.

KETIGA : Perkataan Habib Munzir “Mereka yang lari mencari tim SAR tidak selamat”, ini merupakan pernyataan yang aneh bin ajaib yang menimbulkan pertanyaan-pertanyaan :

–         Apakah waktu terjadi bencana tsunami yang terjadi secara tiba-tiba sudah ada tim SAR di lokasi kejadian tatkala itu?. Ataukah tim SAR tiba di lokasi kejadian setelah selesai tsunami?.

–         Lantas kalaupun seandainya ada tim SAR tatkala itu maka apakah terbetik di pikiran masyarakat untuk mencari tim SAR sementara tsunami begitu cepat menyerang???

–         Lantas jika tim SAR ada tatkala itu, dimanakah lokasi mereka?, apakah mereka selamat ataukah tidak selamat terkena tsunami?

 

KEEMPAT : Perkataan Habib Munzir “mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt, karena kalau tidak lalu mengapa Allah jadikan di makam–makam shalihin itu terdapat benteng yang tak terlihat membentengi air bah itu” ini merupakan pernyataan yang menimbulkan banyak pertanyaan :

–         Apakah ada data valid yang bisa dipertanggungjawabkan bahwasanya sebagian kaum muslimin selamat karena beristighootsah kepada mayat?

–         Dimanakah lokasi kuburan-kuburan tersebut sehingga orang-orang yang berlindung ke kuburan-kuburan tersebut selamat?. Apakah lokasinya di dataran tinggi? Ataukah di dataran rendah?. Jika kuburan-kuburan tersebut di dataran tinggi maka bisa jadi sebab keselamatan bukanlah karena kuburan-kuburan tersebut akan tetapi karena lokasi kuburan yang berada di dataran tinggi

–         Jika seandainya lokasi kuburan di dataran rendah maka inilah yang ajaib, menunjukkan bahwa air tsunami terhalang dinding yang tidak nampak sebagaimana perkataan Habib Munzir. Karenanya kami sangat butuh informasi akurat dengan data yang valid dari Habib Munzir…, jangan lupa jumlah orang yang selamat tersebut karena kuburan?

–         Kami ingin tahu data kuburan-kuburan tersebut, benar-benar orang shalihkah atau shalih-shalihan?

 

–         Lantas jika memang benar banyak yang selamat karena berlindung di kuburan, maka apakah mereka selamat karena beristighootsah kepada penghuni kuburan??, kami butuh bukti nyata akan hal ini…dan berapakah jumlah mereka tersebut??. Ataukah mereka beristighootsah langsung kepada Allah ta’aalaa?

KELIMA : Perkataan Habib Munzir “mereka yang lari ke makam shalihin selamat. Inilah bukti bahwa Istighatsah dikehendaki oleh Allah swt“.

Sungguh ini merupakan pernyataan yang sangat berani sekali…ini adalah berbicara tentang sesuatu yang ghaib yang hanya diketahui oleh Allah. Karenanya saya mengajak Habib Munzir untuk merenungkan hal-hal berikut :

–         Perkataannya “Inilah bukti bahwa istighatsah dikehendaki oleh Allah SWT”: bukti bahwa sesuatu dikehendaki Allah apakah hanya dengan perkiraan seperti ini? Di saat banyak sekali ayat-ayat suci Al Quran dan hadits-hadist yang menyatakan bahwa istighatsah, meminta sesuatu, meminta pertolongan hanya kepada Allah Ta’ala. Mau dikemanakan ayat-ayat dan hadits-hadits tersebut?!?”

–         Bukankah ada juga laporan dalam sebagian situs internet bahwasanya ada gereja tua yang selamat?, apakah ini bukti bahwasanya Allah menghendaki dan meridhoi kesyirikan kaum nashroni?

–         Apakah orang-orang yang tidak selamat dalam peristiwa tsunami –meskipun mereka beristighootsah langsung kepada Allah- lebih buruk daripada orang-orang yang selamat karena beristighootsah kepada mayat penghuni kuburan??. Orang yang terkena musibah belum tentu lebih buruk daripada orang yang selamat. Karena yang tidak selamat bisa jadi musibah merupakan penghapus dosa-dosanya dan meninggikan derajatnya, sementara yang selamat bisa jadi merupakan istidrooj dari Allah !!!

 

–         Kalau seandainya kita berdalil dengan kenyataan maka bisa saja seoerang wahabi akan berkata kepada Habib Munzir : “Tuh lihat, kerajaan Arab Saudi telah puluhan tahun mengatur Masjid Nabawi dan Al-Masjid Al-Haroom, serta kepengurusan haji dan Umroh, bukankah ini bukti bahwasanya Allah meridhoi kaum Wahabi?, dan Allah mengajarkan kepada umat Islam agar meneladani mereka??”, dan seorang wahabi yang lain berkata, “Tuh lihat bukankah kerajaan Saudi pusat wahabi dalam kondisi aman dan makmur, sementara Negara-negara lain seperti yaman –yang pusatnya kaum sufi dan tempat belajarnya para habib (diantaranya habib Munzir)- dalam kondisi kacau dan tidak aman, serta perekonomian terbelakang, bukankah ini adalah menunjukkan bahwa Allah mengajar umat Islam agar meneladani kerajaan Saudi pusat wahabi??”

KEENAM : Apakah Habib Munzir mengajarkan dan menganjurkan jika kaum muslimin menghadapi musibah yang sangat besar yang mengancam kematian –seperti tsunami- maka apakah mereka segera mencari kuburan orang sholeh untuk beristighootsah kepada mayat-mayat? Dan meninggalkan  beristighootsah langsung kepada Allah??

Bukankah Allah berfirman

أَمَّنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ

Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan (QS An-Naml : 62)

Bukankah Allah juga berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ

Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, Maka (jawablah), bahwasanya aku adalah dekat. aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku (QS Al-Baqoroh : 186)

Ar-Roozi berkata :

“Allah subhaanahu wata’aala berfirman ((Dan jika hamba-hambaKu bertanya kepadamu (wahai Muhammad) tentang aku maka sesungguhnya aku dekat)), dan Allah subhaanahu wa ta’aala tidak berkata ((Katakanlah aku dekat)), maka ayat ini menunjukkan akan pengagungan kondisi tatkala berdoa dari banyak sisi. Yang pertama, seakan-akan Allah subhaanahu wa ta’aala berkata : HambaKu engkau hanyalah membutuhkan washithoh (perantara) di selain waktu berdoa’ adapun dalam kondisi berdoa maka tidak ada perantara antara Aku dan engkau” (Mafaatihul Goib 5/106)

Renungkanlah wahai Habib Munzir…:

Kalau istighatsah seperti ini dikehendaki Allah Ta’ala, sebagaimana angan-angan Habib, maka kenapa ketika:

–         Terjadi perselisihan antara kaum muhajirin dan anshar dalam pemilihan khalifah setelah wafatnya Habibuna Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, kaum muhajirin dan anshar tidak istighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam padahal keadaan sangat genting dan penting.

–         Terjadi perperangan melawan orang-orang murtad yang menyebabkan banyak meninggal dari para ahli baca Al Quran, kemudian Umar radhiyallahu ‘anhu menyarankan Abu Bakar agar dikumpulkannya Al Quran di dalam satu mushaf, kenapa Abu Bakar tidak istighatsah kuburan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dalam hal ini minta pertolongan, padahal ini adalah kejadian yang sangat penting.

–         Terjadi tha’un di zaman pemerintahan umar radhiyallahu ‘anhu, yang menyebabkan banyak kaum muslim yang meninggal kenapa mereka tidak beristighatsah ke kuburan Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam.

–         Terjadi penyerangan kaum khawarij terhadap kepemimpinan Utsman radhiyallahu ‘anhu yang menyebabkan syahidnya utsman radhiyallahu ‘anhu, kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhu tidak istighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

–         Terjadi beberapa pertempuran di zaman pemerintah Ali bin Abi Thalib radhiyallahu ‘anhu dan keadaan kaum muslim saat itu sangat genting dan kacau, kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak beristighatsah ke keburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

Masih banyak lagi habib…kejadian-kejadian genting dan penting tetapi kenapa para shahabat radhiyallahu ‘anhum tidak beristighatsah ke kuburan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ?!!!

(bersambung)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: